Blog Sep 5, 2020

Orang tua {tak} menyayangi ku

Rants
MA
Muhammad Alif Akbar Senior Software Engineer
schedule 3 min
Orang tua {tak} menyayangi ku

Siapa yang sering kali mendengar kalimat di judul di atas? Atau “Orang tua aku tidak mengerti aku”, “Adik/kaka ku lebih disayang”, dll. Semua kalimat senada yang pada intinya menyalahkan kondisi mu atas ketidak-pedulian orang tua mu. Yang menganggap bahwa orang tua mu tidak sayang kepadamu. Banyak anak anak jaman sekarang menuntut diberi kebebasan oleh orang tuanya yang “terlalu” mengekang. Berkata “aku bukanlah kalian, jangan paksa aku memenuhi mimpi kalian yang tidak tercapai, aku punya mimpi sendiri, aku punya kehidupan sendiri. Aku bukan barang yang kalian miliki”.

Terdengar egois? Tidak seperti kalimat yang disampaikan banyak influencer diluar sana. Seringkali sekarang hubungan orang tua dan anak digambarkan perlu seperti teman untuk bercerita dan seperti guru ketika perlu akan ilmu. Pernahkah kalian mengingat bahwa, Orang tua mu juga manusia? Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan. Seperti dirimu yang tidak bisa memilih terlahir ke keluarga mana, mereka juga tidak bisa memilih akan memiliki anak seperti apa. Mereka belum tentu siap menjadi teman ataupun guru.

Belajar sambil menjalani, mereka pun juga

Dengan kehadiran mu orang tua belajar tentang memiliki anak. Begitu pula dirimu, belajar menjadi anak. Jika kau merasa adik mu lebih disayang mungkin tidak seperti yang kau bayangkan. Hal itu sesederhana mereka telah mengerti melalui diri mu hal hal yang salah, dan tak ingin mengulangi kepada anak yang berikutnya. Jika kau merasa kakak mu mendapatkan segalanya, mungkin mereka ingin, dia belajar arti berbagi dan kau belajar arti menghormati.

Jika benar kau tidak disanyangi maka kau tak akan ada hari ini, disini membaca blog ini. Kau tau? Orang tua mu punya pilihan untuk melepaskan mu kapan saja, setiap hari semenjak kau lahir hingga kini kau telah tumbuh dewasa. Kau pasti tau bahwa banyak orang tua membuang anaknya. Aku bahkan secara pribadi kenal pada keluarga yang berencana menjual anaknya begitu lahir. Lantas, kau yang kini hidup dengan nyaman, mempertanyakan kasih sayang? Tidak kah kamu egois?

Mimpi yang dititipkan

Mimpi orang tua mu yag tidak tercapai. Benar, itu salah mereka mengapa tidak mengejar mimpinya. Tapi pernahkah kau pikirkan? Siapa yang memasang rantai beban dikakinya? Sehingga ia tidak bisa berlari mengejar mimpinya. Kau ingin berkata kau tak pernah minta dilahirkan dan mengekang mereka? Jadi, sekarang tuhan yang ingin kau salahkan? Ataukah memang kau begitu lemah sehingga tidak dapat memikul mimpi orang tua mu? Kalau begitu apakah kamu yakin kuat mengejar mimpi mu? Yang kau bayangkan lebih indah, karena jika benar itu lebih indah, sadarkah bahwa itu akan lebih sulit. Menanggung mimpi yang dititipkan, telah dibungkus rapi pun kau tak sanggup. Apakah kamu yakin mampu meraih mimpi mu?

Jika mimpi mu bertolak belakang? Tak bisakah kau mencari titik tengah? Yang mampu membahagiakan dirimu dan juga orang tua mu? Sebagai terimakasih mu kepada mereka. Sebagai cara engkau belajar mengenai berdiskusi dengan hormat. Karena jika engkau sungguh sudah menjadi manusia yang dewasa seperti yang engkau katakan. Kau akan sadar itu adalah pilihan terbaik.

Masihkah? Benarkah?

Sekarang.., masihkah kau merasa tidak disayangi? Benarkah demikian? Apakah ini bukan karena dirimu yang menutup hati dan tak mengijinkan cinta mereka masuk. Seperti dulu ketika engkau masih bisa menangis manja dipangkuan mereka.

Ataukah.. ini sesungguhnya karena engkau yang telah pergi terlalu jauh, dan lupa jalan untuk pulang?