Blog Aug 30, 2020

Iman = Penenang Terbaik Overthinking (Part-1)

Rants
MA
Muhammad Alif Akbar Senior Software Engineer
schedule 6 min
Iman = Penenang Terbaik Overthinking (Part-1)

Sedikit Latar duluu... Nyapa - nyapa dikit..

Halo pembaca yang lagi gabut 😘, Iya.. kamu, kamu yang lagi membaca blog ini. Mau minta maaf kalau kamu salah satu yang sering berkunjung tau banget aku tuh ga sering update blog dan janji punya janji artikel ga muncul muncul. Well, maaf karena emang belum jadi habbit jadi masih rada susah nyari waktu nulis. Sebenarnya ada beberapa yang udah di draft tapi ga sempat di beresin. Malah selalu ada artikel yang ditulis ketika kepikiran dan sekali jalan langsung beres ditulis. Seperti halnya artikel kali ini.

So, lets begin..

Mari samakan definisi dulu biar ga nyasar

Overthinking, berpikir terlalu jauh, yang sering kali identik dengan situasi dimana seseorang mencapai asumsi yang salah ataupun tidak penting. Aku mau coba bahas hal ini karena overthinking adalah sesuatu yang akhir-akhir ini sering aku alami. Terutama mungkin karena baru merasakan 2 heart break di tahun ini (2 kali dalam 8 bulan coy, rationya 💔 tiap 4 bulan 😂). Kejadian tersebut membuat aku sering melakukan self retro atau istilah islami-nya muhasabah. Eitss, bener banget kalau kamu notice Islam itu keren banget! nget, nget!! Karena bahkan hal kekinian seperti retro itu udah ada dari duluuuu. Jadi yang bilang Islam ga up to date, hmm coba deh gaul sama nagh nagh muda haluan Al Latief, Shift! (sudah pasti bukan saya donggg, karena saya ikut kajian cuma kalau lagi ada masalah 😬). Misal, seperti teman saya @creativemuslim go follow him (dia juga yang mengenalkan jagat Tumblr kepada saya).

Iman, yang secara sederhana di artikan “Yakin/Percaya” merupakan sebuah kata yang mendasari level ke-Islaman seseorang. Bingung? Gini, dalam Islam terdapat 2 Rukun yaitu Rukun Islam dan Rukun Iman.

  1. Rukun Islam adalah 5 kegiatan dasar yang wajib dilakukan oleh seorang muslim.
  2. Sedangkan, Rukun Iman adalah pilar yang dimana setiap muslim bisa berbeda-beda tingkat. Nah ini yang terkait overthinking, khususnya di Iman kepada Qada dan Qadar karena pemahaman orang maupun level “Kepercayaan” bisa menghasilkan perilaku yang berbeda di tiap muslim.

Kenapa bisa Overthinking

Sebenarnya banyak banget hal yang bisa menjadi penyebab munculnya overthinking. Mulai dari masalah karir, keluarga, pertemanan, percintaan, dll. Tapi common ground nya ialah, semuanya tentang adanya suatu masalah yang ingin di selesaikan. Karena emang kebanyakan orang ga akan mikir kalau ga dihadapkan dengan masalah, ya ga?

Image

Terkait tentang islam-islaman (khususnya buat kamu yang muslim, notice ga hal keren banget?) Di Islam dijelaskan tentang diberikannya suatu ujian kepada hamba untuk menaikan derajat seseorang. Kamu yang dihadapkan dengan kondisi overthinking bisa jadi sedang disayang-sayangnya sama Allah. Kamu lagi mau dinaikin derajatnya.

Sumber: Web Islamqa

Apalagi, Allah tuh udah menjamin tidak akan memberikan cobaan selain yang hambanya bisa pikul. Semakin sulit berarti kamu semakin kece dong, bangga dongg, ya ga? Kalau konsep barat akan berkata

“Setiap masalah yang kamu temui akan membuatmu semakin dewasa.”

“What doesn’t kill you makes you stronger”.

Notice similarity nya? udah percaya Islam ga ketinggalan zaman?

“Wait, jadi maksudnya, overthinking itu bagus?”

Bukan begitu ferguso, semua yang over atau berlebih tidak pernah bagus. Termasuk Overthinking. Karena, selain asumsi yang salah sehingga memperburuk keadaan overthinking juga bisa menjadi penyebab imsomnia (gangguan sulit untuk tidur) beda yaa sama anemia (yg ini gugel sendiri aja lah ya) 😜.

“Tapi, kenapa ya kita rentan overthinking? Apa lagi jaman now”

Image

Hemm, untuk menjawab ini aku coba bahas sedikit scientific tentang “how our brain works”. Otak kita memiliki sebuah bagian yang disebut amigdala di pusat otak kita (which mean secara evolusi dia termasuk bagian paling awal muncul). Bagian ini merupakan pusat kendali utama ketika kita mendapati sebuah masalah, amigdala akan memutuskan apakah kita harus. “fight” or “flee”. Dalam sepersekian detik amigdala harus memutuskan apa yang harus kita lakukan. Misal ketika ketemu ular, apakah orang ini harus lari aja atau coba lawan. Kan ga bisa tuh berleha-leha selfie dulu sama ular.

Ilustrasi dari NOBA Project

Bukan berarti overthinking itu bersumber di amigdala, bukan. Tapi, ini mau ngejelasin our brain emang punya sistem problem solving yang udah wired dari jaman kita masih seperti kera (no debat, apakah teori evolusi bener atau teori creation bener, aku bukan ahlinya dan ini cuma nyampaiin apa yang common dibaca di buku-buku). Jadi wajar kalau ketika ada masalah kamu berusaha mencari solusi, that what makes us human.

Tapi yang jadi isu adalah, otak kita tumbuh semakin kompleks begitu pula masalah kita. Dan seperti quote favorite saya dari almarhum eyang habibi tentang problem solving.

Fakta, Masalah dan solusi

Dimana secara langsung berarti, untuk menciptakan solusi kita perlu mencari fakta lalu menentukan akar masalah. Di kondisi semua hal semakin kompleks kita perlu mencari fakta sebanyak banyaknya. Tidak jarang sekarang Internet menjadi sumber utama kita untuk mencari fakta. Baik website berita maupun sosial media. Oleh karena itu kan sekarang populer banget tuh “Decision by Data”, “Data Science”, dll. Semuannya bertujuan menyelesaikan sebuah masalah.

Nah.., sekarang kalian punya alasan kan buat stalking gebetan? atau mantan? Karena mau menyelesaikan masalah dan karena kamu manusia #ups

“Okey,... Tapi, kenapa overthinking? masih ga paham”

Hoo, kirain udah jelas banget dari quote eyang habibi. Oke oke, jadi gini, setelah step mencari fakta apa lagi? “Masalah”. Kita perlu mendefinisikan apa masalahnya. Nah ini yang sering kali kenapa kita stuck sama sebuah overthinking. Karena kita tidak bisa mendefinisikan apa masalah yang sebenarnya terjadi. Which also mean, kita tidak mendapatkan fakta yang dibutuhkan setelah mencari cari. Oleh karena itu kita berputar putar aja di loop pemikiran tanpa akhir. Ingat di film Rudi Habibi, beliau ga bisa tidur gara gara mencari solusi? Sama lah, beliau juga overthinking bedanya beliau mikirin Indonesia kamu mikirin si dia #eh.

Jadi solusi utama untuk overthinking ialah mencari faktanya seakurat atau selengkap mungkin. Contoh, problem dalam relationship yaa cara nyari faktanya ialah diobrolkan. Mau nyari ampe ke cina juga ga akan ada yang tau apa masalahnya selain doi. Tapi emang perlu kedewasaan untuk memilih ngobrol daripada lari / kabur, respect buat kalian yang bisa berdiskusi.

Jadi, udah jelaskan kenapa overthinking? Karena kamu ga punya cukup informasi untuk mendapatkan inti masalah apalagi solusi. Itu juga yang menyebabkan kenapa muncul asumsi yang salah hal ini disebut dengan cognitive bias (banyak lagi ni turunannya seperti confirmation bias, halo effect, missinformation effect, Dunning-Kruger, dll). Jadi bukan kesalahan logika (logical fallacy) atau ga bisa mikir atau ga peka atau “kamu tuh ga bisa ngertiin akuh”. Simply kurang data.

Segitu dulu part 1 😁, coba baca ulang dan resapi sebelum

Lanjut ke Part 2 ya..