Kegagalan dan kesedihan, merupakan hal yang wajar. Semua orang pernah melaluinya bukan hanya saya maupun anda. Kalau saja Edison saat itu menyerah pada percobaannya yang gagal, bukan satu, dua, tapi ratusan bahkan ribuan kegagalan. Mungkin hari ini kita masih menggunakan lampu minyak. Kemungkinan besar kamu pasti pernah mendengar cerita ini. Terinspirasi dari kisahnya, lantas mengapa kita jatuh tersungkur dan tak ingin bangkit lagi?
Dulu saya pernah berkata pada seorang kawan, "saya menyukai kritikan, menyukai kegagalan". Karena itu berarti saya memiliki ruang untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi. Saya memiliki suatu target yang dapat menjadi kesuksesan baru di masa mendatang. Diri saya saat itu, penuh rasa percaya diri. Saya pasti bisa selalu bangkit dan melompat lebih jauh. Saya yakin, percaya diri adalah jawaban untuk mengatasi kegagalan.
Tapi rupanya itu salah. Saya tidak menyukai kritik, saya tidak menyukai kegagalan. Nobody does. Orang yang sukses pada dasarnya, karena ia tidak suka kegagalan, maka ia mencoba mengubah nya. Beberapa orang mungkin kuat untuk mencoba kembali tapi ada pula yang tidak kuat dan menyerah. Lantas apakah orang yang menyerah itu salah? Bermental lemah?

Saya yakin, kamu sering, atau setidaknya pernah melihat gambar diatas. Kebanyakan dari kita hanya akan melihat ilustrasi orang yang menyerah padahal sedikit lagi akan berhasil menemukan berlian, lalu berkata "jangan pernah menyerah". Namun, kita luput akan banyak detail lain dalam gambar ini. Salah satunya ialah tentang pemerannya. Ada seorang anak muda yang memiliki antusiasme tinggi namun masih jauh dari goal, ada seorang bapak tua yang sedikit lagi berhasil tapi berhenti. Apakah si bapak lemah?..
Apakah kamu mulai mengerti arah kalimat saya? Mari saya beri ilustrasi kalimat lain. Ada 2 orang pelari yang satu berlari dengan sedikit luka, sebut saja lengan dia terkilir dan satu lagi berlari dengan luka tusukan di perutnya. Pelari pertama finish, sedangkan pelari kedua.. sebut saja tidak finish. Apakah pelari kedua bermental lemah? Apakah bapak diatas salah? Apakah dia tidak berguna, tidak pantas akan hidup, tidak pantas akan kebaikan.
Apakah dia, kamu, saya, salah telah menyerah? Banyak orang lupa, dunia ini begitu luas dengan berbagai macam kemungkinan. Kita bahkan mungkin tidak akan ada sekarang jika saja nenek moyang kita bersikeras tinggal di dataran tidak subur karena yakin dapat mengolahnya tanpa mencoba bermigrasi ke kepulauan Nusantara. Betul kini di dataran tandus itu kini rindang dan penuh sumur minyak, tapi bukankah ketika jaman jahiliah, disini nenek moyang kita telah menjadi kerajaan besar.
Lalu, masihkah menurut mu orang yang menyerah itu buruk? Terkadang kita memang butuh pasrah dan menyerah. Untuk bisa benar-benar berhenti dan melihat sekitar, melihat lebih jauh. Seperti ketika kamu sedang tersesat, apa yang akan kamu lakukan? Berhenti, bertanya, lihat Google maps. Jika benar lanjut, jika salah berbelok dan tak jarang berputar balik. Ketika teman kita tiba lebih dulu, senang, tertawa, bercenda gurau lebih awal. Apakah kita akan iri? Bukankah kita biasanya ikut senang, tertawa dan memberi selamat dengan tulus. Karena perjalanan ini bukan perlombaan.
Percaya diri yang saya miliki dulu, sangat baik. Tapi apalah gunanya percaya diri dapat melompat, jika arahnya salah? Rasanya kini jawaban yang tepat dalam menghadapi kegagalan bukanlah yakin kuat, percaya diri, segera bangkit, tidak patah semangat. Jawaban yang lebih tepat ialah menikmati kegagalan.
Hidup bukan seperti tombol, pas sedih, terus dipencet bisa langsung berubah bahagia lagi (nktchi).
Karena hidup itu seperti sebuah petualangan,
Kita terkadang berjalan arah yang benar, terkadang salah, terkadang tersesat.
Terkadang berlari, terkadang istirahat, terkadang diam kebingungan.
Tapi semuanya adalah satu kesatuan yang dapat dinikmati.
Karena hanya setelah dinikmati baru lah kita bisa bertahan dan mencoba melangkah lagi.