Blog Jul 24, 2021

Uang oh uang!

Rants
MA
Muhammad Alif Akbar Senior Software Engineer
schedule 10 min
Uang oh uang!

Premis 1: Banyak yang menilai hutang dengan bunga itu buruk, bahkan agama Islam mengharamkan.

Premis 2: Terbukti, banyak orang, perusahaan bahkan negara mengalami kesulitan karena bunga hutang.

Pertanyaan: Apakah mungkin bunga itu dihilangkan? Bukankah semuanya jadi lebih nyaman jika tanpa bunga.

I. Intro: sejarah uang dan bank

Mari kita mulai eksplorasi terhadap premis dan pertanyaan diatas. Apakah mungkin bunga dihilangkan? Untuk menjawabnya, kita perlu tau dulu kenapa sistem ekonomi sekarang menerapkan sistem bunga? Kok bisa, hampir semua bank di berbagai negara yang jaraknya jauh dan tidak saling terafiliasi bisa kompak menerapkan mekanisme yang sama?

Untuk menyamakan perspektif, kita perlu tau sedikit tentang sejarah uang. Bagi kalian yang pernah belajar ekonomi, atau IPS, pasti tau bahwa manusia semua menggunakan sistem barter untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi ada suatu masalah besar, barter hanya dapat terjadi jika kedua belah pihak saling menginginkan barang yang ingin ditukarkan. Sehingga suatu waktu, bisa saja sebuah benda menjadi tidak dapat ditukarkan karena tidak ada yang menginginkannya. Sistem barter sangat sulit untuk terus diterapkan.

Waktu berlalu, manusia menemukan sebuah benda yang selalu diinginkan oleh semua manusia, sebut saja benda X. Misalkan, seseorang pemilik benda A menginginkan benda B. Namun, pemilik benda B tidak menginginkan benda A tapi selalu menginginkan benda X. Maka pemilik A harus menukarkannya ke benda X lalu menukarkannya ke B. Dilain sisi, benda X juga memang dinginkan oleh A, sehingga kapan pun ia siap menukarkan A dengan X. Sehingga benda X mendadak menjadi alat tukar yang baik.

Terdengar aneh? Emang ada beneran benda yang semua orang inginkan? Jaman dulu belum ada iPhone kan?

Salah satu benda yang diterima sebagai benda X adalah Garam. Garam adalah jenis batuan satu satunya yang dapat dimakan oleh manusia. Dengan garam, manusia bisa membuat makanan lebih lezat dan lebih tahan lama. Bahkan kita tau ada sebuah penyakit yang timbul karena kekurangan garam. Tidak aneh jaman dulu semua orang menginginkan garam. Sejarah mencatat, pasukan romawi kuno gajinya bisa berupa garam[1]. Kalau kalian coba cek google, kata “salary” yang berarti gaji berasal dari kata latin “sal” yang berarti garam.

Garam tentu saja tidak akan selamanya bertahan menjadi benda X. Seperti hal nya iPhone, walaupun tahun ini semua menginginkannya, pada tahun depan iPhone yang lebih baru lebih diinginkan. Kemudian lama lama iPhone yang telah berumur akan menjadi tidak berharga. Begitupula garam, lambat laun mudah didapatkan, sehingga supply menjadi banyak sedangkan kebutuhan akan garam tidak bertambah. Garam kehilangan posisinya sebagai benda X. Posisinya lalu mungkin digantikan oleh perak, perunggu dan emas. Kalau diperhatikan lebih jeli, sesungguhnya benda X ini adalah uang yang kita kenal. Sebuah benda yang selalu diterima sebagai alat tukar.

Karena terciptanya uang, setiap manusia tidak perlu lagi menjadi produsen. Kebutuhan mereka dapat dipenuhi dengan berdagang, yang pada esensinya mengubah uang menjadi lebih banyak uang. Menukar uang dengan sebuah benda, lalu menukarkannya kembali dengan jumlah uang yang lebih banyak. Dengan alasan yang sama, manusia tidak perlu bekerja sama sekali selama ia memiliki uang. Uang seketika menjadi target utama dalam pencurian dan perampokan. Lalu muncul lah bank.

II. Verse: Alasan bunga tersebar luas

Bank pada dasarnya adalah pihak yang menawarkan jasa menyimpan uang dan memberi jaminan uang tersebut tidak akan hilang. Bank jaman modern menambahkan jasa lain, yaitu uang yang disimpan bisa diambil kapan saja dimana saja. Karena bank sesungguhnya merupakan usaha jasa sudah pasti pelanggannya (nasabah) harus membayar jasa tersebut (biaya admin). Tapi, berapa yang harus dibayar?

Image

Coba kita telusuri arus kas sebuah bank (bank Mandiri). Coba kita lihat potongan arus kas[2] bank tersebut di tahun 2020.

Diketahui bahwa:

  1. Terdapat 350juta rekening perbankan di Indonesia [3].
  2. Market share bank mandiri adalah 15%[4], anggaplah nilai itu berkorelasi dengan jumlah nasabahnya berarti terdapat 52,5 juta rekening.
  3. Anggaplah pengeluaran bank ini hanyalah membayarkan gaji dan tunjangan semua karyawannya dan anggaplah hanya 80% nya yg dialokasikan untuk sektor simpanan (pareto principle [5]). Maka bank mengeluarkan uang sekitar 14 Triliun rupiah.

Maka, untuk membiayai bank tersebut, nasabah perlu membayar biaya administrasi sekitar 267rb pertahun atau sekitar 22rb rupiah perbulan. Ingat ini baru agar bank tersebut tidak rugi ketika membayar gaji, belum termasuk biaya oprasional, seperti listrik, perawatan ATM, dll. Tapi kenyataannya nasabah membayar jauh lebih rendah dari 22rb (12,5rb [6]). Maka sudah pasti bank harus mencari cara untuk menghasilkan pemasukan. Sabagai pihak yg memiliki (atau setidaknya menyimpan) banyak uang. Bisnis model yang paling mudah ialah meminjamkan uang lalu menerima bunga.

Jadi, kenapa semua bank ada bunga? Karena semua bank adalah bisnis, ia perlu menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya. Karena nasabah menginginkan bunga dari simpanannya. Karena nasabah ingin biaya administrasi yang rendah.

Mungkin banyak dari kalian akan berkata “saya tidak perlu bunga kok”. Tapi, apakah kalian siap membayar biaya administasi yang tinggi? Mungkin kalau semua biaya dibebankan ke nasabah, biaya admin bisa mencapai 50rb per bulan. Sementara kalian tau ada bank lain yang memberikan gratis biaya administrasi. Dengan menggunakan bank digital yang men-gratiskan banyak biaya admin, sesungguhnya secara tidak langsung kita sedang mendukung tumbuh suburnya “bunga”.

III. Refrain: Mungkinkah.. bunga hilang?

“Baiklah, saya bersedia membayar admin 50rb sebulan untuk bank dan akan mengajak semua orang untuk melakukan hal yang sama. Apakah suatu hari bunga akan hilang?”

Baiklah, anggaplah karena ajakan kamu, Indonesia berhasil menghapuskan sistem bunga di perbankan dan eknomi nasional. Tapi, Indonesia masih harus harus bertransaksi dengan negara lain, yang menerapkan bunga. Tapi, lagi lagi anggaplah semua negara di seluruh dunia telah menghapuskan bunga secara nasional mereka masing masing. Apakah berhasil bunga akan hilang?

Misal kita ambil studi kasus negara Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini telah menghapuskan bunga di dalam negeri masing masing. Karena bank telah mendapatkan keuntungan dari seluruh nasabah siap membayar admin. Tapi, ketika akan terjadi transaksi antar negara, yang memiliki kurs berbeda, akan timbul masalah baru. Kerugian selisih kurs. Karena kerugian ini merupakan kerugian transaksi, siapa yang harus membayar kerugian ini?

Mungkin ada yang belum paham kerugian yang dimaksud, akan saya coba jelaskan. Kita tau bersama landasan paling dasar ekonomi seperti yang sudah dijelaskan di bagian sebelumnya ialah “permintaan” (demand) dan “pasokan” (supply). Hal ini juga berlaku kepada kurs.

Misal saja Indonesia memproduksi barang A dan B, sedangkan Malaysia memproduksi barang C dan D. Untuk membeli barang dari Indonesia diperlukan rupiah dan untuk membeli barang dari Malaysia membutuhkan ringgit. Ketika kedua negara saling membutuhkan nilai kurs setara, misalkan 1 rupiah setara dengan 1 ringgit. Namun suatu waktu Malaysia memproduksi barang A sehingga tidak perlu membeli dari Indonesia. Maka Malaysia tidak memerlukan rupiah sebanyak yang sebelumnya (demand rupiah berkurang). Maka untuk Indonesia tetap memiliki jumlah ringgit yang sama untuk bisa membeli barang C dan D hanya terdapat 2 pilihan, menaikkan harga B sebanyak 2x lipat lalu berharap Malaysia tetap membeli dengan kuantitas sama atau menurunkan 1/2 harga dengan harapan Malaysia membeli 4 kali lebih banyak. Pilihan pilihan seperti inilah yang menentukan nilai tukar rupiah.

Jadi misalkan, kurs sekarang IDR 1 = MYR 1. Kita membeli sesuatu barang dengan harga 2 ringgit yang berarti 2 rupiah. Tapi tidak jadi dipake, lalu ingin dijual kembali tapi harga rupiah menguat sehingga IDR 1 = MYR 2, ketika kita menjualnya dengan ringgit lalu dikonversi kembali, uang kita tersisa IDR 1 Rp dari yang awalnya IDR 2. Maka dalam kasus ini siapa yang harus menanggung biaya? Yang bertransaksi? Oke ingat semua orang butuh keuntungan untuk dapat makan. Kalau individual mungkin bisa saja dia rugi ditransaksi ini, lalu mendapatkan keuntungan dari bisnis lain. Tapi untuk bank? Lagi lagi pilihannya adalah bunga pinjaman. Bisa kita bilang klo gitu bank jalankan bisnis lain. Tapi kembali ingat, keahlian bank adalah mengelola uang bukan produksi.

Bagaimana biar biaya konversi kurs tidak ada? Simpel, gunakan kurs yang sama.

IV. Bridge: Ada banyak kurs, pakai yang mana?

Banyak negara menyadari masalah besar dari perbedaan kurs ini. Kurs siapapun yang dipakai akan membuat negaranya memiliki kekuasaan lebih dibanding negara lain. Karena tentu yang memiliki hak mencetak uang adalah negara tersebut. Sebagai contoh, dikasus Indonesia dan Malaysia diatas, misalkan yang dipake adalah ringgit malaysia, maka mau tidak mau, agar Indonesia bisa membeli barang C dan D adalah dengan berusaha menjual B lebih banyak. Jika Indonesia tidak mampu lagi menjual lebih banyak, maka Indonesia akan merasakan defisit terhadap benda C dan D. Jika C dan D adalah makanan pokok, maka akan terjadi kelaparan di Indonesia.

Jadi sebenarnya solusi satu kurs itu buruk. Solusi lebih baik adalah menggunakan berbagai kurs tapi memiliki daya fluktuasi yg rendah. Jadi kalaupun terjadi rugi konversi kurs, nilanya seminim mungkin, sehingga masih dapat ditanggungkan oleh nasabah. Kalau diperhatikan lebih seksama sejauh penjelasan tentang kurs, nilai kurs terikat dengan barang A, B, C dan D. Sehingga untuk membuat kurs memiliki fluktuasi yang rendah harus ada sebuah benda yang menjamin nilainya dimana semua negara membutuhkannya. Yap benar, perlu ada uangnya uang.

Mungkin kamu yang membaca sampai sini akan beranggapan bahwa saya bermaksud mengarahkan bahwa kita perlu:

  1. Siap membayar bank tinggi
  2. Mengajak menggunakan kembali mata uang dengan jaminan emas seperti dinar dan jaminan perak seperti dirham, sesuai ajaran nabi.

Untuk poin yang pertama, Iya, saya berkesimpulan untuk menghapuskan bunga kita perlu membayar biaya admin yang tinggi. Namun, untuk poin yang kedua, saya tidak berpendapat seperti itu.

Saya mohon maaf sebelumnya, kalimat berikut ini mungkin akan menyinggung sebagian orang. Saya ingin tekankan bahwa, saya tidak memiliki keahlian mendalam terkait hadist, sehingga yang saya utarakan hanyalah sebatas pendapat. OK? Paham ya.

Baiklah begini, Sebagai contoh hadist mengenai takaran zakat.

Hadist yang diriwayatkan dari Ali ra, dia berkata, telah bersabda Rasulullah saw:

“Jika kamu mempunyai 200 dirham dan sudah cukup setahun maka zakatnya adalah 5 dirham, dan emas hanya dikenakan zakat bila sudah mencapai 20 dinar dan sudah cukup setahun, maka zakatnya adalah ½ dinar setiap bertambah maka dengan hitungan tersebut. Tidak wajib zakat kecuali sampai cukup masa setahun”. (H.R Abu Daud)[
7

Saya ga pernah punya 200 dirham. Berarti kalau secara literal, saya ga perlu bayar zakat 5 dirham. Tentu saja saya juga tidak punya dinar. Tapi, nyatanya ulama melebarkan pemaknaan terkait hadist ini menjadi zakat 2,5% (5/200 * 100%) dari pendapatan. Lantas kenapa penggunaan dinar dan dirham di akhir zaman harus literal dinar dan dirham? Menurut saya yang nabi ajarkan adalah menggunakan mata uang dengan jaminan yang relatif stabil. Saat itu yang ada ialah perak (dirham) dan emas (dinar).

Buktinya, 200 dirham (perak) zakatnya 5 dirham, yaitu 2,5%. Dan 20 dinar (emas) zakatnya (1/2), yaitu 2,5%. Berarti sebenarnya zaman itu 1 dinar senilai 10 dirham. Dengan kata lain saat itu, dinar bernilai 10x lipat lebih tinggi dari dirham. Tapi nyatanya sekarang harga 1gr perak 12rb dan harga 1gr emas 881rb (24 Juli 2021), jauh dari 10x lipat. Orang berkata mata uang nabi stabil, tapi hanya melihat dinarnya saja. Dinar stabil karena dinar berjamin emas, demand terhadap emas tidak turun sejauh ini. Tapi demand terhadap perak telah turun. Jika suatu saat emas menjadi tidak bernilai dan turun. Lalu apakah hadist nabi salah? Menurut saya tidak, hanya kita yang memahaminya terlalu sempit.

V. Coda: Kesimpulan

Pada akhirnya zaman berubah, kebutuhan berubah. Bunga muncul karena ketamakan manusia. Hampir semua manusia ingin untung, termasuk saya. Kondisi yang ada sekarang sesuai dengan kondisi pada game theory yang disebut dengan nash equilibrium. Untuk merubah kondisi yang ada diperlukan semua orang berkerja sama. Namun bagaimana mungkin semua orang bekerja sama ketika semua punya kepentingan masing masing?

Mungkin sih… kalau semua negara tiba tiba satu paham islam atau komunis #eh.