Blog Jul 12, 2020

Let's talk about future: Technology

Tech
MA
Muhammad Alif Akbar Senior Software Engineer
schedule 11 min
Let's talk about future: Technology

Akhir akhir ini dunia sedang berputar sangat cepat. Berbagai bidang terjadi perubahan baik perkembangan maupun penurunan. Sebagai salah seorang yang menikmati berita, saya ingin menyuarakan beberapa pendapat saya terkait "Future" atau masa depan. Pada blog kali ini, saya akan memulai dari bahasan di keahlian saya yaitu Teknologi.

Sedikit latar

Saya merupakan seorang yang sangat senang berdiskusi baik yang sekedar bertukar berpendapat hingga yang berujung debat. Topik yang saya dan teman bahas sangat beragam mulai hal remeh seperti mengapa cendol warnanya hijau, hingga globalisme. Hal inilah salah satu alasan mengapa saya sangat senang untuk berkunjung ke kampus (almamater saya) di akhir pekan. Saya dapat mudah menemukan target "ngobrol" di kampus, yang memang merupakan tempat berkumpul orang dengan pemikiran hebat.

Namun kondisi lingkungan saat ini tidak memungkin saya untuk berkumpul "membuang-buang" waktu dengan teman. Sehingga terdapat banyak bahan diskusi yang tertumpuk di kepala meminta untuk dikeluarkan. Untung saja saya memiliki personal blog. Pada blog ini saya akan meluapkan pemikiran saya terkait "Masa Depan".

Saya rasa cukup sekian latar mengapa saya menulis blog kali ini. Mari masuk ke pembahasannya. Pada kesempatan ini saya akan membahasan pandangan pribadi terkait 2 topik utama mengenai masa depan, yaitu Teknologi (blog post ini) dan Politik (blog post berikutnya).

Apa yang lagi "trend" di teknologi?

Pertanyaan diatas merupakan salah satu pertanyaan yang sering kali digunakan untuk membuka diskusi. Sayangnya, kali ini saya harus membayangkan menanyakan hal itu kepada diri sendiri. Untuk menjawab pertanyaan diatas sebenarnya sangat sulit. Karena teknologi memiliki sangat banyak frontier. Seperti, di bidang pangan terdapat inovasi yang memungkinkan "daging" dihasilkan tanpa memotong hewan. Di bidang teknologi finansial, block chain dan crypto currency. Semua bidang keilmuan pasti ada perkembangan kearah teknologinya. Terutama karena definisi teknologi sendiri sangat luas, berdasarkan KBBI, teknologi berarti "metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan;".

Lalu bagaimana saya menjawab pertanyaan ini? Saya akan memilih satu bidang yaitu "Digital Product" atau produk digital. Hal ini karena dunia professional saya berada di software developer. Suatu bidang yang sangat erat kaitannya dengan produk digital. Sedikit disclaimer, tentu saja saya mengakui bahwa musik, video, ilustrasi, gambar, dll merupakan produk digital. Tapi saya tidak akan membahas hal tersebut secara spesifik di blog ini.

Daripada menghabiskan waktu menjelaskan hal yang ujung ujung saya tidak bahas 😂. Langsung saja ke beberapa hal hal yang ingin saya uraikan antara lain:

1. Flutter is Future, period.

Ini adalah hal yang tidak henti hentinya saya sampaikan. Baik secara langsung maupun di artikel blog lainya. Flutter merupakan salah satu tools yang memungkinkan seseorang untuk membuat aplikasi multi platform dengan sekali menulis code. Saingan terbesar dari flutter ialah React Native namun saya percaya flutter akan keluar sebagai pemenang di pengembangan multi platform ini. Karena berbeda dari react yang diciptakan sebagai teknologi pengembangan web lalu merambah mobile dan desktop, flutter sejak day 1 merupakan tools untuk membuat aplikasi mobile dan kini merambah ke web dan desktop. Sehingga tidak aneh jika performa yang ditawarkan oleh flutter dan kemudahan membuat aplikasinya lebih unggul.

Hal ini bukan berarti truly native akan mati atau di tinggalkan. Karena at the end of the day. Fitur terbaru milik sebuah platform hanya akan dapat dinikmati oleh aplikasi truly native. Sehingga pengembang aplikasi yang sangat membutuhkan latest developement akan tetap di native. Misal, pemanfaatan dynamic delivery milik android, atau App Clip milik apple ataupun jika ada sensor terbaru yang disematkan kedalam sebuah platform. Namun mayoritas aplikasi tidak membutuhkan hal tersebut. Bahkan dynamic delivery yang sudah lama diperkenalkan oleh android tidak diadopsi oleh semua aplikasi yang ada.

Saya menilai untuk sekala pengembangan aplikasi yang kecil. Lebih besar keinginan untuk bisa mendeliver aplikasi tersebut ke sebanyak mungkin platform yang ada. Yang mana hal ini dimungkinkan oleh Flutter dan React Native. Saya menyebutkan sebelumnya jika Flutter akan menang. Tapi, itu bukan berarti React Native akan ditinggalkan. Kedua tools ini akan mulai terasa perbedaannya dari waktu ke waktu (saat ini masih cukup mirip). Dimana React Native menarget mereka "yang aslinya" web developer sedangkan Flutter menarget mereka "yang aslinya" App Developer.

Untuk "new developer" saya rasa pilihan yang rasional adalah mempelajari flutter. Karena Flutter sendiri di maintain oleh Google. Mereka adalah pemilik "Android" dan "Chrome". Bukan tidak mungkin Flutter akan mendapatkan integrasi yang lebih baik kepada 2 platform tersebut. Selain itu "isu" OS baru dari Google "Fuschia" yang entah kapan akan launch akan menggunakan Flutter sebagai Native Dev Kit nya. Jangan harap React akan support fuschia native sejak Day 1.

Dari segi bahasa pemograman, Flutter menggunakan Dart yang lebih unggul out of the box. Bahasa Dart, statically typed tanpa mengubah apa apa (walaupun benar ada opsi tipe dynamic sebagai opsi) yang akan mengurangi bug karena salah tipe. Dart juga memiliki fitur tree shaking yang dapat membantu mengurangi size code setelah compile dengan menghilangkan code yang tidak terpakai. Kedua hal utama yang tidak dimiliki javascript sebelum melakukan berbagai konfigurasi (seperti mengganti bahasa ke typescript). Benar tree shaking mengorbankan fitur reflection. Tapi hal ini menurut saya trade off yang cukup baik. Karena hanya akan membuat developer sedikit lebih sulit namun memastikan size terkecil untuk user.

Saat ini React unggul secara jumlah component dan besar komunitas. Namun saya rasa hal itu tidak lama lagi akan disusul oleh Flutter. Hal ini terlihat dari jumlah widget untuk flutter berkembang sangat pesat dan begitupula jumlah komunitas Flutter. Namun disaat komunitas JS terjadi perpecahan, bahkan original founder Node.JS memilih untuk membangun runtime dan package manager baru Deno. Package manager untuk Dart dan Flutter Pub.dev is going strong dengan fitur meta ranking yang memudahkan kita mencari package yang dibutuhkan (very much like how google does search).

Dari semua hal diatas dibanding memilih React yang di maintain oleh Facebook rasanya lebih masuk akal jika Flutter yang akan dipilih.

2. Apple Silicon is (Awesome) Future.

Hal berikutnya adalah yang paling baru keluar informasinya di Apple WWDC 2020. Berita terkait, Apple akan melakukan migrasi prosessor ke produk Apple Silicon. Mungkin banyak yang berpikir ini hal ini biasa saja bukan sesuatu yang spesial karena toh tidak menggunakan produk Apple apalagi Macbook. Tapi perlu di ingat Apple adalah Trend Setter. Semenjak iPhone pertama kali keluar produsen lain selalu mencontoh Apple. Bukan berarti Apple selalu di depan, tapi apapun yg dilakukan oleh Apple selalu membuat kompetitor mau tidak mau mengikutinya. Terbukti dari menghilangkan kenektor headset dan penggunaan notch. Migrasi ke Apple Silicon ini akan mengundang transisi yang sama.

Apple Silicon kemungkinan besar akan menjadi produk yang closed environtment yang mana tidak dapat digunakan di produk selain milik Apple. Namun, Transisi ke Apple Silicon sejatinya ialah transisi dari arsitektur Intel ke ARM. Hal inilah yang kemungkinan besar akan ditiru. Mungkin yang lain akan migrasi dari Intel ke Qualcomm atau produsen lainnya. Bahkan sang Linux Kernel Kolonel, Linus Torvald, ketika kemarin "pindah" dari Intel ke AMD berkata "No, I didn't switch to ARM yet". Sebuah indikasi ia akan pindah ke ARM suatu saat. Mungkin 2 tahun depan (setelah apple menyelesaikan transisi)? 🧐.

Kenapa hal ini sangat menarik, karena hal ini memungkinkan:

  1. Performa chip yang lebih baik dengan ukuran lebih kecil, lebih hemat daya dan lebih murah. Sehingga line up MacOs akan menjadi murah (murah standar Apple, which sebenarnya masih mahal).
  2. Produksi chip menjadi lebih banyak (mass production meningkat) yang berujung chip tersebut bisa dihargai lebih murah. Terlebih karena chip untuk MacBook Pro tahun ini, bisa dijual kembali menjadi chip iPad tahun depan, dan menjadi chip iPhone tahun depannya lagi.
  3. Semua aplikasi iOS dan iPadOS dijalankan secara native di MacOS. Hal ini memungkinkan pengembang cukup mebuat 1 aplikasi untuk semua platform, iPhone, iPad, Mac dan Apple TV yang tidak menutup kemungkinan Apple Watch dan AirPod. Perubahan ini sangat seirama dengan ide Flutter seperti di section sebelumnya. Yang juga berarti flutter akan secara otomatis bisa membuat aplikasi untuk iOS, iPad dan Mac. Sebenarnya ide "Universal App" ini bukan hal yang baru. Microsoft sudah perrnah mencobanya, tapi platform Windows Phone tidak berhasil di pasaran. Begitu pula Samsung mencoba dengan Tizen. Bahkan Google masih terus mencoba dari chromeOS, hingga yang masih tersembunyi Fuschia. Lantas mengapa saya merasa Apple akan berhasil? Karena Apple satu satunya yang "Ecosystem" nya dibangun sejak awal. Jika ada sebuah platform yang dapat mewujudkan Universal App maka itu adalah Apple. Lalu yang lain akan berusaha mengikuti.
  4. Mulainya era "Ubiquitous Gaming" atau gaming dimana saja (tentu saja selama ada Apple devices). Benar MacBook dengan ARM tidak dapat menjalankan OS Windows untuk bermain game. Bahkan Apple berencana berhenti menggunakan 3rd party Graphic card, baik dari NVidia ataupun AMD. Namun promise single app run every where akan sangat menggiurkan untuk developer game. Terlebih dimana gaming industry sendiri menuju ke arah "Mobile" terlihat dari semakin banyak nya Game AAA menuju mobile (walaupun android masih memegang status juara Mobile Game).
  5. Keempat poin diatas terkait konsumen umum. Untuk developer sendiri terutama bagi mereka yang fokus membuat aplikasi Mobile seperti saya. MacOS on top ARM, menandakan Android Studio dan XCode akan on top ARM juga. Begitu pula dengan emulator dan simulatornya. Yang mana bisa dipastikan akan berjalan lebih smooothhhh. Karena sejatinya Android memang dibangun on top ARM.

Selain itu terkait graphic ini, Apple terlihat akan lebih "Open" dimana dev kit (Metal) untuk windows baru saja dirilis. Sehingga game developer kini bisa "membuat" game untuk iOS dan Mac dari Windows. Kita, sebagai player, cukup menunggu waktu Apple Graphic yang dimiliki Apple Silicon cukup baik. Niscanya semua game Desktop akan migrasi ke Apple.

Android Studio yang nanti on top ARM, berarti Android Studio bisa juga dijalankan di iPadOS. Adios Macbook Pro~. Segmen Tablet akan kembali mengairah di Dunia. Demand terhadap professional tablet dengan pencil akan bermunculan. Benar Samsung Galaxy Tab sudah bertahun tahun menguasai pasar Tablet. Tapi tidak mampu menciptakan ledakan demand. Dan pada akhirnya nothing beats the iPad pro (at least sampai skrng, karena produsen lain pun akan segera berlomba membuat professional tablet).

5 Hal diatas merupakan sesuatu yang "Revolusioner" untuk dunia personal komputer. Yang telah lama tidak mendapatkan revolusi semenjak the first iPhone dan iMac.

3. Cloud Gaming is still far in the future. or... does it?

Siapa yang masih ingat dengan Stadia? Sebuah platform cloud gaming dari Google. Yang terlalu banyak masalah dan akhirnya kini diam diam bae. Banyak yang menilai cloud gaming is still far in the future. Masalah jaringan menjadi problem utama. Selain itu konsol sepeti PS dan XBox semakin "gila" dalam spesifikasi dan tidak butuh di upgrade setiap tahun. Sepertinya cloud gaming bukanlah bagian dari masa depan. Ditambah PC akan memasuki transisi ke ARM yang semakin tinggi performa nya. Alasan limited device performace akan jauh berkurang.

Tapi.. saya pribadi meyakini bahwa cloud gaming is still the future. Kenapa? karena perkembangan teknologi yang begitu pesat mungkin untuk PS dan XBox tidak setiap tahun, namun bagaimana dengan mobile game dan desktop Game? Mungkin saya masih bisa setuju jika Desktop Game akan menuju kematian. Tapi Mobile? sepertinya tidak mungkin. Ditambah "Universal App" dari Apple sepertinya akan merevitalisasi "Desktop" gaming. Cloud gaming bisa menjadi pilihan masuk akal bagi mereka yang tidak mau repot mengganti device hampir setiap tahun.

Oke, tapi paling tidak ga dalam waktu dekat dong?

Saya sendiri, merasa tidak akan begitu lama. Betul tidak dalam 1-2 tahun ini. Tapi sepertinya kurang lebih 5 tahun lagi. Sementara infrastruktur jaringan semakin baik dalam 5 tahun itu. Google dapat terus memperbaiki Stadia dan memperlajari sangat banyak hal seperti halnya Google Cloud Platform. 5 tahun merupakan durasi yang cukup masuk akal untuk "Startup" berjalan tanpa keuntungan. Apalagi jika yang dibelakangnya adalah the all knowing Google.

Mengapa 5 tahun? Karena melihat history perkembangan teknologi komunikasi. 3G dikembangkan di tahun 1980an lalu digunakan di tahun 2000an. Sekitar 15-20 tahun durasi riset dari 3G. 4G mulai diriset tahun 1998 dan mulai digunakan tahun 2010an. Sebut saja sekitar 10-15 tahun dihitung kasar. 5G mulai di riset tahun 2008 dan mulai digunakan tahun 2019 sekitar 10 tahun. Teknologi berikutnya, 6G sebut saja mulai diriset tahun 2020 (tahun ini, karena sudah banyak pihak yang mengklaim mulai melakukan riset untuk 6G). Kemungkinan akan memakan waktu hanya 5-10 tahun. Betul diatas saya mengambil analisis 5 tahun. Karena menurut saya, berbeda dari sebelum sebelumnya, kini ada kebutuhan besar dari the new super power (red: china) untuk menciptakan teknologi ini demi terlepas dari belenggu teknologi "barat". Terlebih tahun ini sangat jelas terlihat efek dari perang teknologi. oleh karena itu negeri tirai bambu pasti ingin sesegera mungkin mandiri secara teknologi.

Sungguh 5 tahun itu tidak terasa, banyak mahasiswa yang bahkan belum lulus kuliah 5 tahun. #eh. Oleh karena itu saya merasa cloud gaming tidak akan begitu lama lagi.

4. AI / ML, IoT, Wearable dan Cryptocurrency

Selain 3 bagian diatas, AI / ML, IoT, Wearable juga masih menjadi "Future" namun saya tidak tertarik membahasnya. Karena memang teknologi ini sedang dalam masa berkembang. Bukan sesuatu yg "baru". Yang menarik untuk dibahas adalah Cryptocurrency. Namun dibanding teknologinya seperti (Libra dari faceboook) menurut saya lebih menarik adalah "politik" disekitarnya. Yang akan saya bahas di blog part berikutnya.

Mungkin cukup sekian saya menguraikan analisis saya terkait 3 future teknologi.

Sampai berjumpa di blog post berikutnya